Berlaga di Ajang Nostalgia
June 7th, 2007 by pramanjaya"Masuki Pintu Gerbang Masa Lalu dalam Dimensi Waktu yang Berbeda". Kalimat yang memancing rasa ingin tahu orang itu tertulis dalam lembaran promosi sebuah kafe di kawasan Jakarta Utara. Maksudnya, ternyata, kafe di sayap kiri Museum Sejarah Jakarta atawa Museum Fatahillah itu menawarkan segala hal yang berbau Jakarta tempo dulu. Mulai suasana, interior, hingga menu sajiannya.
Kafe Museum, nama tempat melepas penat tadi, memang cukup unik dibandingkan dengan banyak kafe lain yang menjamur di Ibu Kota. Begitu masuk, sudah terasa aroma zaman kolonialisme Belanda merasuk pemandangan. Ada meja kayu dengan daunnya terbuat dari pualam, tegak di atas lantai berupa potongan batu kali. Bunga-bunga terangkai segar dalam jambangan serba putih, dengan daun yang masih melekat pada tangkainya. Lebih masuk ke dalam, ada ruangan khusus yang kian kental dengan suasana zaman kolonial. Foto-foto repro para gubernur jenderal Belanda tergantung di seputar dinding. Masing-masing diterangi lampu sorot. Begitu pun foto sejumlah tokoh sejarah Indonesia. Di situ tampak gambar Raden Ajeng Kartini, pahlawan dari Bali I Gusti Gedhe Djelantik, Pakubuwono IX, dan Sri Sultan Hamengku Buwono VI.
Di ruangan itu terdapat sebidang lantai yang satu meter lebih tinggi ketimbang ubin di sekitarnya. Tempat itu dipakai sebagai panggung. Di atasnya teronggok piano berusia 300 tahun, yang masih merdu bunyinya. "Kami memang menawarkan suasana tempo dulu, yang unik, klasik, dan antik," kata Rafe’i Tirtaatmadja, Financial Controller dan Senior Supervisor Kafe Museum, kepada Redy Pramanjaya dari Gatra.
Kafe Museum menutup warung setiap Senin. Di hari-hari lain, warung buka pukul 10.00. Pada hari biasa, pintu ditutup pukul 23.00. Pada Jumat dan Sabtu ditutup pukul 01.30. Sejumlah pengunjung tak hanya mendapatkan suasana masa lalu. Mereka bahkan mengaku "bertemu" dengan hantu prajurit kolonial Belanda. "Tapi, saya sendiri belum pernah merasakannya," kata Rafe’i. Kafe Museum bukan satu-satunya tempat menikmati suasana masa lalu.
Persis di seberangnya, di bangunan tua yang dulunya tempat tinggal gubernur jenderal Belanda, ada Kafe Batavia. Di kafe yang beroperasi sejak 1993 itu pun aroma kolonial terasa ditonjolkan. Pada dindingnya melekat beragam poster film dan iklan tahun 1930-an, menggelantung pula foto beberapa gubernur jenderal, mulai J.B. van Heutz hingga Tjarda van Starkenborgh Stachouwer. Belum lagi bila disebut resto Klub 45 Restoran dan Bar di Jalan Mahakam, Kebayoran Baru, dan The Golden Memories Fine Dining di Jalan Ampera Raya, Kemang, Jakarta Selatan.
Jejak-jejak masa lalu pun mendominasi berbagai hiasan ruang dan aksesori kedua kafe ini. Klub 45 yang letaknya persis di sudut jalan itu menghiasi dindingnya dengan foto tokoh sejarah Indonesia, antara lain reproduksi foto Bung Karno bersepeda memboncengkan Ibu Fatmawati. Poster-poster iklan tempo dulu pun terpajang di sisi lain dinding. Di lain pihak, The Golden Memories seperti menyuguhkan suasana Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Negeri Belanda, pada 1949 dengan menempatkan replika meja tempat Bung Hatta dkk berdebat untuk kemerdekaan Indonesia di satu ruangannya. Juga suasana Club House Batavia "De Harmonie" di ruang yang diberi nama De Harmonie, dengan cerobong asap dari besi sebagai ciri khasnya.
Di tengah gemebyar bisnis kafe dan resto di Ibu Kota, kiat keempat kafe dan resto itu untuk menarik minat pengunjung terbilang khas. Bukan cuma suasana dan aksesorinya. Penamaan menunya bahkan dapat membikin orang teringat dan seakan merasakan masa silam. Menu khusus dan yang diunggulkan Kafe Museum, misalnya, pisang goreng keju Nyai Dasima. Nama ini mengingatkan pada legenda masyarakat Betawi, tentang seorang perempuan simpanan yang menjadi istri pejabat Belanda pada 1800-an. Sajian lain adalah "sop boentoet goreng Si Jagoer", nama meriam peninggalan masa lampau yang kini masih teronggok di museum.
Si Jagoer dimasak dari buntut sapi yang digoreng, ditemani kuahnya yang disajikan dalam wadah terpisah. Nama sejenis digunakan pengelola Klub 45 untuk makanan dan minuman. Di sana tersedia nasi goreng ikan asin "Si Pitung" dan minuman khas Betawi: es doger "Pasar Baroe". Suguhan suasana tempo dulu boleh sama, tapi bagi pengelola Kafe Batavia dan The Golden Memories, untuk urusan menu harus berbeda. Kedua kafe ini lebih memilih menu ala Eropa –juga tempo dulu– dalam suguhan unggulannya.
Kafe Batavia menyediakan Fatahillah punch, Batavia punch, dan Si Jagur punch untuk pengunjung yang tak suka minuman beralkohol. Tersaji pula caipiroschka dan Borneo sunset, dua jenis koktail yang mengandung alkohol. Untuk santapan, tersedia pula beragam pilihan: masakan Cina, Eropa, dan menu Indonesia. Menu yang disajikan The Golden Memories lain lagi. Kafe ini lebih mengkhususkan diri menyediakan menu tradisional Belanda, seperti hutspot met klapstuk, Hollandse maatjes haring, atau bruinebonen of erwtensoep.
Namun, ternyata, kiat menyuguhkan suasana masa silam itu tak seluruhnya memberi keuntungan secara bisnis. Malah, adakalanya justru merugi. Kafe Museum, contohnya. Sejak beroperasi pada 28 Oktober 2001, kafe ini selalu merugi. "Saya katakan ini proyek merugi. Tapi, misi pemiliknya untuk proyeksi ke depan," kata Rafe’i Tirtaatmadja.
Rafe’i menyatakan optimismenya bahwa kafe ini akan maju beberapa tahun ke depan. Sesuai dengan rencana induk pemerintah daerah, area di sekitar Kafe Museum kelak dikembangkan menjadi kawasan wisata maritim. Pada saat itulah, ia berharap, kafenya ramai dikunjungi para pelancong asing. Kafe dengan kapasitas tempat duduk untuk 80 orang ini, menurut Rafe’i, untuk sementara bisa disebut kafe pendidikan dan sosial. Banyak mahasiswa perhotelan magang di sini. "Kami memang menampung siswa dan mahasiswa kejuruan menjalani praktek bekerja," katanya lagi.
Hal serupa dialami Kafe Batavia, yang pernah menerapkan sistem keanggotaan untuk pengunjungnya. Sistem ini kemudian macet sejak krisis moneter melanda Indonesia pada 1997. Untuk dapat bertahan, pengelolanya kemudian mengaktifkan kafe itu sebagai tempat penyelenggaraan beragam pesta. "Tapi, kami tengah berusaha mengaktifkan kembali sistem itu," ujar Arif Rachman, General Manager Kafe Batavia.
Dua kafe "nostalgia" lainnya yang berada di lokasi elite Jakarta Selatan tentu sangat lain keadaannya. Klub 45 yang berkapasitas tempat duduk untuk 100 orang itu boleh dibilang selalu ramai, terutama pada malam hari. Bahkan, pada akhir pekan, kapasitasnya ditambah sehingga dapat menampung 150 pengunjung. Yang datang ke kafe ini pun beragam, kendati pangsa pasarnya sebenarnya khusus kalangan usia 30-an. "Tapi, banyak juga orang-orang tua yang nongkrong dan bernostalgia di sini," kata Ade W. Said, Direktur Utama PT Nuansa Empatlima Gemilang, perusahaan yang menaungi Klub 45.
The Golden Memories yang memiliki kapasitas untuk 80-100 orang pun terhitung lumayan. Pada Sabtu dan Minggu, kerap semua meja resto dan kafe yang khusus untuk kalangan kelas atas ini terisi penuh. Tetapi, setiap Senin, resto dan kafe ini tutup. "Sebab, menurut hasil survei kami, jarang ada pengunjung pada hari itu," kata Klaas Kamp, konsultan The Golden Memories. Untuk promosi, keempat kafe itu punya cara sendiri-sendiri. The Golden Memories mengumandangkan konsep "4 fines": fine place, fine price, fine food, dan fine service". Kafe Museum pun meniupkan ajakan "Masuki Pintu Gerbang Masa Lalu dalam Dimensi Waktu yang Berbeda" sebagai alat promosinya.
Sedangkan Kafe Batavia menggunakan semboyan "There’s Nowhere Like It". Berlainan dengan Klub 45 yang hingga kini tak punya moto khusus untuk promosinya. "Soalnya, kami dikenal karena informasi dari mulut ke mulut," ujar Ade W. Said. Moto boleh berbeda. Begitu juga menu unggulan. Tapi, dalam soal harga, keempat kafe itu terhitung mematok angka standar, kecuali untuk menu yang memang sangat khas.
Suasana dan sajian di Kafe Batavia dan Kafe Museum dapat dinikmati dengan menyiapkan uang sekurang-kurangnya Rp 200.000. Kecuali menu caviar di Kafe Batavia yang, "wah", harganya dipatok Rp 1 juta per 30 gram. Ukuran yang hampir sama berlaku di The Golden Memories, yang mematok harga makanan dan minuman Rp 66.000 hingga Rp 230.000. Tapi, harga lebih bersahabat diterapkan pengelola Klub 45, dengan kisaran Rp 10.000 hingga Rp 75.000 untuk minuman dan makanan.
Lepas dari soal standar harga atau untung-rugi, kejelian para pengelola keempat kafe itu menawarkan suasana yang berbeda dari puluhan kafe lainnya tentu pantas diacungi jempol. Apalagi, di tengah persaingan bisnis boga yang kian ketat di masa krisis seperti sekarang, diperlukan kreativitas untuk menampilkan hal berbeda.