Berlaga di Ajang Nostalgia

June 7th, 2007 by pramanjaya

"Masuki Pintu Gerbang Masa Lalu dalam Dimensi Waktu yang Berbeda". Kalimat yang memancing rasa ingin tahu orang itu tertulis dalam lembaran promosi sebuah kafe di kawasan Jakarta Utara. Maksudnya, ternyata, kafe di sayap kiri Museum Sejarah Jakarta atawa Museum Fatahillah itu menawarkan segala hal yang berbau Jakarta tempo dulu. Mulai suasana, interior, hingga menu sajiannya.

Kafe Museum, nama tempat melepas penat tadi, memang cukup unik dibandingkan dengan banyak kafe lain yang menjamur di Ibu Kota. Begitu masuk, sudah terasa aroma zaman kolonialisme Belanda merasuk pemandangan. Ada meja kayu dengan daunnya terbuat dari pualam, tegak di atas lantai berupa potongan batu kali. Bunga-bunga terangkai segar dalam jambangan serba putih, dengan daun yang masih melekat pada tangkainya. Lebih masuk ke dalam, ada ruangan khusus yang kian kental dengan suasana zaman kolonial. Foto-foto repro para gubernur jenderal Belanda tergantung di seputar dinding. Masing-masing diterangi lampu sorot. Begitu pun foto sejumlah tokoh sejarah Indonesia. Di situ tampak gambar Raden Ajeng Kartini, pahlawan dari Bali I Gusti Gedhe Djelantik, Pakubuwono IX, dan Sri Sultan Hamengku Buwono VI.

Di ruangan itu terdapat sebidang lantai yang satu meter lebih tinggi ketimbang ubin di sekitarnya. Tempat itu dipakai sebagai panggung. Di atasnya teronggok piano berusia 300 tahun, yang masih merdu bunyinya. "Kami memang menawarkan suasana tempo dulu, yang unik, klasik, dan antik," kata Rafe’i Tirtaatmadja, Financial Controller dan Senior Supervisor Kafe Museum, kepada Redy Pramanjaya dari Gatra.

Kafe Museum menutup warung setiap Senin. Di hari-hari lain, warung buka pukul 10.00. Pada hari biasa, pintu ditutup pukul 23.00. Pada Jumat dan Sabtu ditutup pukul 01.30. Sejumlah pengunjung tak hanya mendapatkan suasana masa lalu. Mereka bahkan mengaku "bertemu" dengan hantu prajurit kolonial Belanda. "Tapi, saya sendiri belum pernah merasakannya," kata Rafe’i. Kafe Museum bukan satu-satunya tempat menikmati suasana masa lalu.

Persis di seberangnya, di bangunan tua yang dulunya tempat tinggal gubernur jenderal Belanda, ada Kafe Batavia. Di kafe yang beroperasi sejak 1993 itu pun aroma kolonial terasa ditonjolkan. Pada dindingnya melekat beragam poster film dan iklan tahun 1930-an, menggelantung pula foto beberapa gubernur jenderal, mulai J.B. van Heutz hingga Tjarda van Starkenborgh Stachouwer. Belum lagi bila disebut resto Klub 45 Restoran dan Bar di Jalan Mahakam, Kebayoran Baru, dan The Golden Memories Fine Dining di Jalan Ampera Raya, Kemang, Jakarta Selatan.

Jejak-jejak masa lalu pun mendominasi berbagai hiasan ruang dan aksesori kedua kafe ini. Klub 45 yang letaknya persis di sudut jalan itu menghiasi dindingnya dengan foto tokoh sejarah Indonesia, antara lain reproduksi foto Bung Karno bersepeda memboncengkan Ibu Fatmawati. Poster-poster iklan tempo dulu pun terpajang di sisi lain dinding. Di lain pihak, The Golden Memories seperti menyuguhkan suasana Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Negeri Belanda, pada 1949 dengan menempatkan replika meja tempat Bung Hatta dkk berdebat untuk kemerdekaan Indonesia di satu ruangannya. Juga suasana Club House Batavia "De Harmonie" di ruang yang diberi nama De Harmonie, dengan cerobong asap dari besi sebagai ciri khasnya.

Di tengah gemebyar bisnis kafe dan resto di Ibu Kota, kiat keempat kafe dan resto itu untuk menarik minat pengunjung terbilang khas. Bukan cuma suasana dan aksesorinya. Penamaan menunya bahkan dapat membikin orang teringat dan seakan merasakan masa silam. Menu khusus dan yang diunggulkan Kafe Museum, misalnya, pisang goreng keju Nyai Dasima. Nama ini mengingatkan pada legenda masyarakat Betawi, tentang seorang perempuan simpanan yang menjadi istri pejabat Belanda pada 1800-an. Sajian lain adalah "sop boentoet goreng Si Jagoer", nama meriam peninggalan masa lampau yang kini masih teronggok di museum.

Si Jagoer dimasak dari buntut sapi yang digoreng, ditemani kuahnya yang disajikan dalam wadah terpisah. Nama sejenis digunakan pengelola Klub 45 untuk makanan dan minuman. Di sana tersedia nasi goreng ikan asin "Si Pitung" dan minuman khas Betawi: es doger "Pasar Baroe". Suguhan suasana tempo dulu boleh sama, tapi bagi pengelola Kafe Batavia dan The Golden Memories, untuk urusan menu harus berbeda. Kedua kafe ini lebih memilih menu ala Eropa –juga tempo dulu– dalam suguhan unggulannya.

Kafe Batavia menyediakan Fatahillah punch, Batavia punch, dan Si Jagur punch untuk pengunjung yang tak suka minuman beralkohol. Tersaji pula caipiroschka dan Borneo sunset, dua jenis koktail yang mengandung alkohol. Untuk santapan, tersedia pula beragam pilihan: masakan Cina, Eropa, dan menu Indonesia. Menu yang disajikan The Golden Memories lain lagi. Kafe ini lebih mengkhususkan diri menyediakan menu tradisional Belanda, seperti hutspot met klapstuk, Hollandse maatjes haring, atau bruinebonen of erwtensoep.

Namun, ternyata, kiat menyuguhkan suasana masa silam itu tak seluruhnya memberi keuntungan secara bisnis. Malah, adakalanya justru merugi. Kafe Museum, contohnya. Sejak beroperasi pada 28 Oktober 2001, kafe ini selalu merugi. "Saya katakan ini proyek merugi. Tapi, misi pemiliknya untuk proyeksi ke depan," kata Rafe’i Tirtaatmadja.

Rafe’i menyatakan optimismenya bahwa kafe ini akan maju beberapa tahun ke depan. Sesuai dengan rencana induk pemerintah daerah, area di sekitar Kafe Museum kelak dikembangkan menjadi kawasan wisata maritim. Pada saat itulah, ia berharap, kafenya ramai dikunjungi para pelancong asing. Kafe dengan kapasitas tempat duduk untuk 80 orang ini, menurut Rafe’i, untuk sementara bisa disebut kafe pendidikan dan sosial. Banyak mahasiswa perhotelan magang di sini. "Kami memang menampung siswa dan mahasiswa kejuruan menjalani praktek bekerja," katanya lagi.

Hal serupa dialami Kafe Batavia, yang pernah menerapkan sistem keanggotaan untuk pengunjungnya. Sistem ini kemudian macet sejak krisis moneter melanda Indonesia pada 1997. Untuk dapat bertahan, pengelolanya kemudian mengaktifkan kafe itu sebagai tempat penyelenggaraan beragam pesta. "Tapi, kami tengah berusaha mengaktifkan kembali sistem itu," ujar Arif Rachman, General Manager Kafe Batavia.

Dua kafe "nostalgia" lainnya yang berada di lokasi elite Jakarta Selatan tentu sangat lain keadaannya. Klub 45 yang berkapasitas tempat duduk untuk 100 orang itu boleh dibilang selalu ramai, terutama pada malam hari. Bahkan, pada akhir pekan, kapasitasnya ditambah sehingga dapat menampung 150 pengunjung. Yang datang ke kafe ini pun beragam, kendati pangsa pasarnya sebenarnya khusus kalangan usia 30-an. "Tapi, banyak juga orang-orang tua yang nongkrong dan bernostalgia di sini," kata Ade W. Said, Direktur Utama PT Nuansa Empatlima Gemilang, perusahaan yang menaungi Klub 45.

The Golden Memories yang memiliki kapasitas untuk 80-100 orang pun terhitung lumayan. Pada Sabtu dan Minggu, kerap semua meja resto dan kafe yang khusus untuk kalangan kelas atas ini terisi penuh. Tetapi, setiap Senin, resto dan kafe ini tutup. "Sebab, menurut hasil survei kami, jarang ada pengunjung pada hari itu," kata Klaas Kamp, konsultan The Golden Memories. Untuk promosi, keempat kafe itu punya cara sendiri-sendiri. The Golden Memories mengumandangkan konsep "4 fines": fine place, fine price, fine food, dan fine service". Kafe Museum pun meniupkan ajakan "Masuki Pintu Gerbang Masa Lalu dalam Dimensi Waktu yang Berbeda" sebagai alat promosinya.

Sedangkan Kafe Batavia menggunakan semboyan "There’s Nowhere Like It". Berlainan dengan Klub 45 yang hingga kini tak punya moto khusus untuk promosinya. "Soalnya, kami dikenal karena informasi dari mulut ke mulut," ujar Ade W. Said. Moto boleh berbeda. Begitu juga menu unggulan. Tapi, dalam soal harga, keempat kafe itu terhitung mematok angka standar, kecuali untuk menu yang memang sangat khas.

Suasana dan sajian di Kafe Batavia dan Kafe Museum dapat dinikmati dengan menyiapkan uang sekurang-kurangnya Rp 200.000. Kecuali menu caviar di Kafe Batavia yang, "wah", harganya dipatok Rp 1 juta per 30 gram. Ukuran yang hampir sama berlaku di The Golden Memories, yang mematok harga makanan dan minuman Rp 66.000 hingga Rp 230.000. Tapi, harga lebih bersahabat diterapkan pengelola Klub 45, dengan kisaran Rp 10.000 hingga Rp 75.000 untuk minuman dan makanan.

Lepas dari soal standar harga atau untung-rugi, kejelian para pengelola keempat kafe itu menawarkan suasana yang berbeda dari puluhan kafe lainnya tentu pantas diacungi jempol. Apalagi, di tengah persaingan bisnis boga yang kian ketat di masa krisis seperti sekarang, diperlukan kreativitas untuk menampilkan hal berbeda.

Nothing Great Comes Easy

April 19th, 2007 by pramanjaya

“Selamat datang di industri periklanan!” Sekitar satu setengah tahun lalu saya ucapkan kalimat itu untuk diri sendiri. Di saat itulah saya berhasil menjadi copywriter di agency tempat saya bekerja sekarang. Sebuah profesi yang jujur saja, sudah lama saya idam-idamkan. Alhamdulillah, layaknya mimpi kesampaian, saya senang bukan kepalang!

Namun kegembiraan tak bertahan lama dan justru berganti kegelisahan. Efek gelisahnya bikin sering susah tidur malam. Kenapa? Perkaranya, saya menemukan banyak hal yang membawa saya ke penyimpulan (semoga masih tergesa-gesa, bahwa menekuni profesi sebagai copywriter tak seindah yang saya bayangkan ketika masih menjadi jurnalis.

Biarkan saya sedikit berbagi kenapa kemudian saya menyimpulkan demikian. Kegelisahan yang pertama yaitu soal seberapa penting sih peran naskah dibanding visual dalam sebuah iklan? Dalam Blink, Malcolm Galdwell jelas-jelas bilang kalau otak manusia memiliki kemampuan yang lebih baik dalam merekam visual jauh daripada rangkaian kata-kata. Dengan kata lain, visual lebih mempesona banyak orang ketimbang sebuah kalimat. Tanpa bermaksud mengotak-kotakkan, ini tentu kabar gembira buat para art director dan berita sedih buat para copywriter. Gampangnya begini. Seandainya saya menyebut iklan cetak Tamiya besutan Creative Juice\G1 Bangkok yang berhasil menyabet metal di berbagai kompetisi, kawan-kawan pasti dengan mudah menggambarkannya dalam benak masing-masing. Tapi coba, siapa yang hapal headline yang mereka gunakan?

Contoh lain. Kawan-kawan mungkin pernah bertemu dengan seseorang berwajah sangat familiar–mungkin saja teman saat duduk di bangku SD dulu–namun tidak ingat sama sekali siapa namanya. Masih belum puas? Satu lagi. Saya juga berani bertaruh, kawan-kawan pasti akan melirik kembali ke atas jika sekarang saya tanyakan apa persisnya judul tulisan ini. Sepakat?

Kedua, soal imej yang kurang bagus di mata khalayak tentang segala hal yang berbau iklan. Dulu saya begitu yakin tulisan saya dibaca—mengutip istilah orang iklan—target audience (TA) ketika si TA membeli majalah yang memuat tulisan saya. Tapi kalau iklan? Masa kejayaan iklan sudah lama berlalu. Mungkin saja sekarang ini, hanya orang iklan belaka yang mantengin televisi saat iklan ditayangkan atau memberi perhatian berlebih pada iklan cetak di suratkabar dan majalah. “Iklan itu tukang tipu!” kata salah satu kenalan saya. Nah lho? Ini memang sudah jadi perkara industri periklanan global. Iklan sudah ditinggalkan pemirsa, pendengar atau pembacanya.

Untuk yang ketiga, mungkin lebih personal sifatnya. Karena latar belakang saya tadinya jurnalis, kerapkali saya dapat komentar begini, “Kurang advertising!” atau, “Terlalu jurnalis!” atau, “Formal banget sih? Ini iklan lho,” dan puluhan celetukan bernada sama. Berangkat dari situ, saya tahu copywriter mendapat ‘tuntutan semu’ yang lebih besar; yang tidak cukup hanya sekadar demi menyampaikan pesan sejernih-jernihnya kepada TA. Apa ‘tuntutan semu’ itu? Ya mulai dari rhyming, semakin pendek semakin baik, sampai tuntutan-tuntutan lain yang serba membingungkan. (yah, oke, ini mungkin soal jam terbang saja).

Hal selanjutnya adalah seringnya saya bertemu dengan sekian copywriter ‘dadakan’ yang bermunculan dari segala penjuru mata angin pada satu pekerjaan. Mungkin karena setiap orang pasti pernah menulis, jadi rasa-rasanya, menulis relatif lebih gampang ketimbang mendesain. Seandainya ada revisi pun, menurut mereka, waktu yang dibutuhkan untuk mengubahnya juga jauh lebih singkat. Semua merasa mampu, semua merasa berhak meski kadang perubahannya nggak penting-penting amat. Mau nggak mau, saya mesti berkompromi dengan situasi tersebut karena semua mengatasnamakan mepetnya deadline. Nggak apa-apa juga sih. Itung-itung meringankan kerja saya. Tapi apesnya, kalau kemudian ada kesalahan naskah bagaimana? Copywriter…?! Bersiaplah bertanggung jawab.

Last but not least: awards. Kawan-kawan tentu tahu bahwa tersedia kompetisi kreatif di berbagai level mulai lokal sampai internasional. Urusan award, mau tidak mau kawan-kawan kreatif mesti mencatatkannya di halaman “target” yang ada dalam buku harian masing-masing.

Praktisi periklanan senior yang saya hormati dan cintai pernah mengatakan, kompetisi kreatif sama halnya dengan peragaan busana yang digelar para perancangnya. Kalau mau kondang ya silakan menggelar fashion show. Kalau belum terkenal, ya numpang ke perancang yang sudah punya nama. Cobalah berkarya segila-gilanya, seinovatif dan seindah mungkin. Semua sah. Lha wong ini fashion show kok.

Nah yang patut diingat, katanya, sesinting apapun kreasi seorang perancang busana yang dipertontonkan saat pagelaran, sang perancang juga perlu menciptakan pakaian biasa yang pas dikenakan sehari-hari. Siapa juga yang mau pakai gaun malam yang terbuat dari kulit telur saat kondangan? Begitu pula kita, orang-orang iklan.

Kelima hal tersebut yang paling tidak membuat saya sebagai copywriter seumuran jagung ini, kerap melek sampai tengah malam. Mengapa? Banyak sih alasan lainnya. Tapi saya yakin saya akan baik-baik saja mencintai profesi ini. Karena Mengutip headline iklan media cetak yang memenangi Grand Prix Cannes 2005, nothing great comes easy.

Sekali lagi, “Selamat datang di industri periklanan!” 

Suhu

July 24th, 2006 by pramanjaya

Aku memanggilnya suhu. Entah karena dia aku anggap guru yang layak digugu dan dituru, atau karena dia yang selalu bisa mengatur panas dinginnya darahku. Entahlah. Aku merasa damai di dekatnya. Tapi aku juga belum bisa mendefinisikannya secara jelas seperti halnya para sarjana-sarjana berdada selalu terbusung yang duduk di sana. Yang pandai menjulurkan lidahnya lalu menyapukannya dengan menafikkan rasa. Padahal bisa jadi, apa yang dijilatnya tidak terlalu bersih disapu tisu. Oh, aku sering melihat siapa saja yang terjilat merem-melek keenakkan. Aku sering turut serta merasakannya. Fantastis! Seperti terbang ke awan, melintasi langit ketujuh.

Yang mengherankan, mereka dapat dengan gampang membunglon di hadapan suhuku itu. Di depannya, bermanis-gula, di belakang semasam jeruk nipis. Kadang bahkan pedas laksana cabe rawit yang tidak tersiram hujan selama masa tumbuhnya. Sesuatu yang sulit aku lakukan sendirian.

Sering aku berpikir, berapa sejatinya jumlah topeng yang dibawa para sarjana itu setiap berangkat kerja. Mungkin cuma dua, tapi boleh jadi sampai 12 buah. Terserah saja, selama dari balik topeng itu mereka masih dapat menjulurkan lidah sepanjang-panjangnya, pastilah muka palsu itu dibawa serta. Syukur-syukur ada pengikut lain yang naksir model mukanya, tergantung tawar-menawar, jika cocok bisa langsung bawa pulang.

Mereka nggak pernah kehabisan stok kok. Bahkan mereka telah membikin perusahaan patungan yang memproduksi topeng dengan berbagai macam ekspresi. Ada yang manis, imut, manut, manggut-manggut, cemberut, memakai janggut, serba ngga patut, dagu selutut, atau yang serba butut mulai dari mata hingga mulut. Ada pula topeng buatan mereka yang licin seperti belut. Semua demi satu tujuan: demi sekali jilatan yang bikin siapa saja mabuk kepayang. Ah, betapa nikmatnya. Aku juga pengin dijilat. Tapi mereka pikir, aku belum pantas dijilat. “Pahit!” serentak mereka teriak. “Emangnya apa yang kalian rasa sewaktu menjilat yang bukan punyaku?”

***

Aku memanggilnya suhu, kendati sering ketika kami berhadapan, aku terdiam sesepi malam kelam. Takut? Um, nggak juga. Dia juga sama makan nasi rasa-rasanya. Kecuali memang, untuk beberapa jenis minuman, dia jauh lebih doyan. Toh, aku tidak menganggapnya sangar. Justru aku menganggapnya suhu. Atau mungkin grogi? Bisa jadi. Lha wong yang lagi duduk menghisap rokok di depan ini aku anggap guru. Panutan. Segala tingkah lakunya tentulah aku jadikan pegangan. Salah sedikit, bisa buyar. Kalau ketahuan, bisa jadi dia langsung menolak kembali aku suhukan. Berabe bukan? Lalu bagaimana bisa selamanya nggak ketahuan? Berarti aku harus sembunyi dalam kepura-puraan? Mencoba tampak terus manis di depannya? Mampukah aku?

Oiya, aku tahu solusinya. Aku coba bergabung dengan para sarjana di sana, dengan aktif di pabrik topeng hasil urunan mereka. Tolong, ada yang tahu caranya? Aku kan nggak mau kehilangan suhu.

*ngecap seasalnya pas jam 02 pagi di pantat pancoran*

Semua Masih Sama Ternyata

November 30th, 2005 by pramanjaya

sudah lebih dari 10 tahun lamanya saya mengendarai sepeda motor kalau mau bepergian entah ke mana saja. mulai dari masih berseragam putih abu-abu, saat kuliah, sampai sekarang tatkala sudah tidak meminta jatah duit BBM ke orang tua. berbagai jenis sepeda motor dengan merek berbeda-beda sudah pernah saya pakai. ada vespa ‘63, CB ‘74, Crystal ‘92, RC ‘89, juga astrea ‘85. cuma tulisan ini bukan untuk membandingkan semua motor–hampir semuanya kalau ditilik dari tahun pembuatannya, sekarang sudah punya cucu–yang pernah saya kendarai tersebut. ini tulisan soal Surat Ijin Mengemudi.

faktanya, selama lebih dari satu dasawarsa itu, saya sama sekali belum pernah memiliki SIM! bukan hal yang layak didecakkagumi, atau dibanggakan sebenarnya ya. pertama karena saya, meskipun pernah punya pengalaman naik motor sejauh hampir 500 kilometer tanpa henti, masih selalu ketar-ketir setiap berpapasan dengan razia kelengkapan surat-surat berkendara. bukan juga ingin membanggakan diri karena selalu lolos dari kejaran polisi di jalan raya. lalu kedua, tentu karena begitu gampangnya memperoleh SIM. tinggal datang ke kantor polisi, temui calo yang tidak kenal menyerah menawarkan jasanya, beri uang paling tinggi Rp 200 ribu (harga dan jenis SIM berbeda di setiap resort), foto, selesai! semudah itu. siapa yang bisa bangga dengan ‘kemudahan’ yang didapat itu? begitu benak saya selalu bicara.

tapi itu semua cerita dulu. sekarang, konon, semuanya berubah.

ceritanya berawal dari keinginan saya memiliki SIM. maklum, eksistensi saya berkendara di jalan raya rasa-rasanya masih kurang komplet kalau tidak membawa surat ijin dari kepolisian tersebut. selain itu, ada sedikit rasa bangga barangkali di dada saya karena akhirnya saya bisa mempunyai SIM dari uang saya sendiri.kalau dulu-dulu kan ngga enak banget dirasain: udah minta, buat nembak pula! maka, saya siapkan dana khusus untuk membuatnya. libur Lebaran jatah cuti bersama dari kantor, saya perpanjang tiga hari khusus untuk membuat SIM. alasan ke bos saya pelintir lewat pesan singkat berbunyi: saya masuk angin, jadi belum bisa masuk kerja.

"Sekarang bikin SIM itu susah Nang. Kamu harus ujian, ngga bisa nembak lagi," begitu kakak perempuan saya memberi kabar. "Tapi bisa murah. paling sekarang abis Rp 75 ribu aja," sambungnya. mendengar itu, kontan saya bungah. ngga masalah kalau mesti melewati ujian teori dan praktek, namun berarti, uang yang saya kumpulkan untuk bikin SIM bersisa lumayan banyak. dari yang tadinya 200 ribu, jadi cuma 75 ribu saja. otak saya langsung berhitung. "Dengan tambahan jatah duit tiket pulang plus sisa uang itu, berarti saya bisa balik ke Jakarta pakai pesawat nih."

Dengan senyum, saya berangkat ke mapolres di kabupaten saya, diantar kakak dan anak semata wayangnya. saya pun dandan rapi jali. maklum, ini salah satu pengalaman pertama.
sampai di mapolres, saya
langsung meregristasi nama saya sebagai pengaju permohonan pembuatan SIM baru. dalam sebuah papan pengumuman besar tertulis: HINDARI CALO. BUATLAH SIM SESUAI PROSEDUR. SIM BARU Rp 75.000, PERPANJANGAN Rp 60.000. benar! bikin SIM sekarang relatif jauh lebih murah. betapa menyenangkan. saya pun antusias menunggu giliran mengikuti tahapan ujian: ujian teori 30 menit, diumumkan 10 menit kemudian. kalau lulus, langsung menuju lokasi ujian praktek, berzig-zag sebentar, membuat putaran angka delapan, berkendara di jalan raya…selesai!

siapa saja yang lulus dua ujian itu langsung bisa masuk ruang foto dan SIM baru sudah ada di tangan. hanya dalam waktu sesiangan. langsung dengan mantap saya berucap niat dalam hati. "Saya harus lulus hari ini. jadi tidak perlu berlama-lama bolos kerja!" belum juga kelar antusiasme saya, terdengar dari pengeras suara nama saya dipanggil. saya ternyata belum melampirkan surat keterangan sehat dari dokter sebagai syarat untuk mendapatkan SIM. agak bingung, saya pun mengiyakan untuk segera mencari surat keterangan tersebut. "Harus ke dokter yang ditunjuk. kliniknya ada di depan mapolres," ujar ibu polwan.

nah lo, kenapa harus ke klinik yang ditunjuk? bukannya dokter, selama dia punya surat ijin praktek, berhak mengeluarkan surat keterangan sehat? lalu, kenapa lokasinya begitu dekat? begitu sekelumit pikiran saya. malas berbelit-belit, saya pun segera berjalan menuju tempat praktek dokter "yang ditunjuk" tersebut, persis di seberang mapolres. melihat tempat bu dokter menjalankan prakteknya, muncul lagi pertanyaan-pertanyaan baru. bagaimana tidak. rumah tempatnya membuka praktek itu terdiri dari dua lantai. hanya ada satu meja dan satu kursi berhadapan. kursi yang satu untuk bu dokter, kursi lainnya untuk "si pasien". satu timbangan dan alat mengukur tinggi badan ada di tengah ruangan. sudah, seperti itu saja. tidak ada dipan tempat dia memeriksa pasien atau pun poster-poster tentang kesehatan seperti jamaknya tempat praktek dokter yang sering kita jumpai. antrean panjang sekali. semuanya untuk satu hal: surat keterangan sehat sebagai syarat pembuatan SIM. setelah bersabar mengantre, nama saya akhirnya dipanggil juga.sejenak duduk, bu dokter langsung bertanya. 
"Berat badan?"
"Sekitar 72 kilo."
"tinggi?"
"178."
"terakhir ngukur, berapa
tensinya?"
"ngga tau bu, sudah lama
sekali."
"Saya kira-kira saja ya,"
ujar bu dokter seraya menuliskan sederet angka. saya belum sempat berkomentar ketika bu dokter ini menuliskan denyut jantung saya per detik dan pernyataan bahwa saya bebas buta warna. semua tanpa dicek!
"sudah, 20 ribu."

saya pun membayar dengan segera. otak saya langsung melakukan penyesuaian, "75 ribu + 20 ribu = 95 ribu." oke lah, masih bisa naik pesawat. seusai memegang surat keterangan, saya segera memfotokopi KTP saya dan kembali menuju tempat registrasi. tak lebih dari 5 menit, nama saya sudah dipanggil untuk masuk ke ruang ujian teori. cepat juga ya…

lembar jawaban dan soal serta merta dibagikan. ada 30 soal di sana, dengan pilihan jawaban a, b, dan c. pertanyaan seputar rambu lalu lintas dan etika berkendara di jalan raya. untuk bisa lulus, siapa saja wajib menjawab benar minimal 20 pertanyaan. oke, beberapa pertanyaan memang menyulitkan. pilihan jawabannya bias: yang paling benar di antara yang benar. saya pun segera mengerjakan. (ah, jadi ingat Sweet November…) setelah semua terjawab, saya coba kembali hitung kemungkinan saya melakukan kesalahan. ada sekitar 6 soal yang saya benar-benar tidak tahu apa jawabannya. Oke, asumsikan, dari 24 jawaban yang saya jawab dengan yakin itu, muncul 3-4 kesalahan. hmm..saya masih berpeluang besar lulus.

penuh percaya diri, saya meninggalkan ruangan ujian setelah 30 menit berlalu. ada sekitar 40 orang yang menjalani ujian bareng dengan saya waktu itu. ujian teori dibagi dalam 3 sesi. saya di sesi kedua. jarum jam menunjuk pukul 10.30.kurang dari 10 menit, penguji bersiap mengumumkan hasilnya. sial, jantung saya ikutan berdebar.   

lalu, mulailah ibu polwan penguji membacakan nama-nama peserta satu persatu. "Yang saya panggil namanya berikut ini…" jantung ini berdetak tambah kencang. ugh…

sudah lebih dari 30 nama disebutkan. salah satunya nama saya. ibu polwan penguji memang sengaja menunda kata "lulus" atau "tidak lulus". dengan cepat saya bermain-main dengan perkiraan. ujian di mana saja biasanya menghasilkan persentase terbesar pada peserta yang lulus. kecuali mungkin UMPTN dan ujian CPNS ;)

dengan asumsi itu, jantung saya ini mulai derdenyut normal kembali.
nama ke-37 disebutkan…
nama ke-38 disebutkan…
"Dan nama-nama yang saya
sebut barusan, adalah nama peserta yang…"
jantung berdebar lagi.
tambah kencang.
kencang.
"Tidak lulus ujian teori.
Silakan kembali ke rumah masing-masing dengan tertib. kenakan helm, berkendara dengan pelan, semoga selamat sampai tujuan. bagi yang baru pertama mengikuti ujian teori dan belum lulus, silakan mengulang secepat-cepatnya tiga hari, dan selambat-lambatnya 14 hari. sedang bagi yang telah dua kali gagal, silakan datang tiga bulan yang akan datang."

saya lemas. hasilnya jauh dari prediksi saya sebelumnya. apa yang salah? ego saya naik. dari sekitar 40 peserta, hanya dua - tiga orang saja yang lolos? sesulit apa ujian ini sebenarnya? saya tidak sebegitu bodoh sepertinya.

lemas. tiga hari bukan waktu singkat buat saya yang membolos dari kantor. saya rela membeli waktu. tapi bagaimana? tidak ada calo SIM lagi berkeliaran. tidak ada lagi "orang dalam" yang mau disuap.

lemas bercampur emosi. saya merasa dipermainkan. saya temui ibu dan bapak penguji untuk mengajukan protes. hasilnya sudah pasti nihil.

lemas. semua terjalani sia-sia.kakak saya ikut-ikutan panik. dia hilir mudik mencari "teman" atau calo SIM yang dulu pernah "membantu"nya mendapatkan SIM. namun nihil. kendati ketemu, si calo mengaku tidak bisa lagi membantu. "Dah, ikut kursus saja. nanti semua pasti gampang," ucapnya menyisakan tanya. "teman"nya pun setali tiga uang.kami lunglai. jadilah bolos kerja saya menepuk angin.

tapi tidak. tunggu dulu. dari pengeras suara terdengar ibu penguji memberikan pengumuman lanjutan. "Untuk menghadapi ujian SIM Anda bisa belajar sendiri di rumah, atau mengikuti bimbingan mengemudi.Anda bisa mendaftarkannya segera. tempatnya persis di depan mapolres."
kursus mengemudi? depan
mapolres? kembali saya dipenuhi beragam pertanyaan.
kemudian, jawaban pertanyaan
itu datang dari secarik brosur. tepatnya, kertaf HVS fotokopian dengan kop lembaga kursus mengemudi yang disebutkan ibu penguji tadi. isinya menggelitik.bunyinya begini: Anda ingin mengemudi dengan profesional dan "cepat" mendapatkan SIM? segera hubungi kursus.

efektif. brosur itu mampu mengundang peminat. saya paling tidak.padahal harga yang dipatok terbilang nendang.dengan hati dongkol, saya menyeberang menuju alamat kursus yang tertera di brosur tersebut. ternyata, alamat tempat kursus itu persis sama dengan tempat praktek dokter yang mendapat rekomendasi kepolisian memberikan surat keterangan sehat, menempati lantai dua. perabotannya sama: satu meja besar, dengan dua kursi berhadapan. sudah,itu saja. soal antrean jangan ditanya, sama banyaknya. saya sengaja mengambil urutan paling belakang. biar puas meluapkan kekesalan. kursus apa coba ini sebenarnya???

betul lah kiranya. tiba giliran saya, langsung saya damprat si petugas administrasi kursus mengemudi ini.
"Ini apa sebenarnya. udah
jangan berbelit-belit!"
"Kursus mengemudi mas…"
"dalam 2 jam kursus, saya
bayar seharga 70 ribu??"
"Kami bisa bantu mendapatkan
SIM…"
"Berapa persen bantuannya?"
"90 persen.."
"10 persennya??"
"kalau saya bilang 100
persen, berarti kursus ini yang bikin SIM, bukan kepolisian.."
saya terdiam. jawabannya
tepat.
"saya bisa langsung dapat
SIM?"
"Mas harus ikut bimbingan."
"Kalau saya beli saja
sertifikat dari kursus ini saja bagaimana?"
"Ngga bisa."
"Kenapa?"
"Mas perlu lulus."
"Lulus?"
"Ya. Nanti kan ada absensi.
lagian instrukturnya dari kepolisian langsung. mereka akan nghapali siapa-siapa saja yang ikut kursus."
Saya kehabisan kata, saepertinya juga
kehabisan kesal. saya dipaksa mengikuti ‘prosedur’ yang dibuat untuk mendapatkan SIM cepat.
"Jadi besok saya harus ikut
ujian lagi?"
"Iya"
"Pasti lulus?"
"Kami bantu mas. tapi kalau
gagal di ujian praktek, mas datang lagi esok harinya buat foto. nggak bisa langsung."
"Kenapa?"
"Nggak enak sama yang nggak
ikut kursus tapi lulus."
saya benar-benar tertawan
bisu.
"Nanti pukul 14 ya mas kursus
dimulai."
"kalau telat?"
"usahakan jangan"
"Kenapa"
"Nggak enak sama peserta
kursus lainnya. oiya, bawa foto berwarna juga ya mas."
"Buat apa?"
"sertifikat"
"Nggak punya"
"diusahakan mas"
"kenapa ngga sekalian di sini
buka studio foto polaroid??"
"ya buat mas boleh hitam
putih"
(dapet sedikit oasis nih…)
saya ulurkan uang biaya
kursus dan pendaftaran. harganya sama seperti harga membuat SIM baru. selamat tinggal tiket pesawat ke jakarta…

pukul 14 lebih 15. saya sengaja datang agak terlambat. hanya karena belum bisa menundukkan ego saya setelah seharian dibuat dongkol dan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali manut. "langsung ke ruang tempat tadi pagi ujian teori aja mas. semua udah di sana. maklum peserta kursusnya banyak. di sini nggak muat," ujar pak penjaga. Lah??

sesi pertama kursus.

kami dibimbing oleh ibu yang tadi pagi menguji kami. semua berjalan seperti pelajaran waktu saya duduk di bangku SD. rambu ini artinya berhenti, rambu itu artinya tikungan tajam, dan seterusnya. tidak ada kisi-kisi. tidak ada pengajaran hal-hal prinsipil seperti misalnya bahwa pejalan kaki harus didahulukan, kemudian setelahnya sepeda, lalu motor, lalu mobil, lalu truk, lalu truk gandeng. kemudian mana yang harus diprioritaskan? apakah ambulan, pejabat tinggi negara, mobil pemadam kebakaran, atau rombongan layatan. selama sesi, saya belum bisa memegang kunci bagaimana menjadi pengemudi profesional di jalan raya. tapi tak apalah. toh saya hanya mau mempunyai SIM.

penghujung sesi pertama, kami mendapatkan pembagian lembar soal untuk latihan. dan persis! sebagian besar soal tadi persis dengan apa yang saya kerjakan tadi pagi. kami diberi jaminan lulus!"Apa jadinya ya seandainya besok seluruh soal saya beri jawaban A?"

"Hus! kamu bertaruh dengan waktu dan uang yang sudah kamu keluarkan," ayah saya memberi nasihat. betul juga.

sesi kedua, latihan ujian praktek.
kami diberi tips-tips bagaimana bisa lancar berjalan zig-zag. semua tidak ada masalah. saya pulang masih tetap menggerutu. dua jam 75 ribu, tanpa banyak ilmu. sejak kapan saya mulai mengukur ilmu dengan uang? tentunya sejak gagal menempuh ujian teori untuk bikin SIM!
esok pagi, hari kedua bolos.

berangkat ujian SIM, ambil sertifikat lulus kursus dulu. fotokopi, lampirkan, beri kepada ibu penjaga loket, 5 menit kemudian saya masuk ruang ujian teori kelompok pertama. jawab sekenanya, mesti tidak A semua, saya keluar pertama. benar. diumumkan, saya–dan teman-teman kursus seangkatan tentunya–dinyatakan lulus. langsung ke tempat ujian praktek. lulus juga. nunggu jatah foto. bayar biaya administrasi sesuai pengumuman yang dipasang besar-besar itu, 75 ribu.

beres. saya dapat SIM C. harga resmi 75 ribu. biaya pendukung: 20 ribu + 75 ribu + tetek bengek fotokopi dan cucicetak foto 10 ribu. satu kesimpulan, saya harus pulang dengan kereta seperti hitungan sebelumnya berarti. yah, paling tidak saya punya SIM. meski semua berjalan seperti yang saya duga sebelumnya. tidak ada perubahan. hanya prosesnya saja berbeda kendati ujungnya sama.

ada yang mau bermotor ria bersama saya, setelah 10 tahun ini?

October 26th, 2005 by pramanjaya

sekali lagi gw disadarkan kalau gw berada di tengah-tengah lingkungan yang doyan bermimpi dan ingin serba instan.

penginnya tinggal buka bungkus, tuangkan bumbu-bumbu, rebus mie-nya selama tiga menit, angkat, aduk bersama bumbu, dan mie pun siap dihidangkan. dimakan, kenyang, selesai.

mimpi sih setinggi langit. gw mau jadi bos. gw mau tinggal perintah. gw mau orang-orang menundukkan kepala kalau bertemu dengan gw. gw pengin orang-orang bangga dengan gw.

baru gw sadar gw hidup di tengah lingkungan yang selalu kencang melontarkan kritik. cuap sana-sini, dan selalu minta didengarkan mesti sebenarnya bernada sumbang. dan cuma itu yang dia bisa. gampang rasanya menepuk dada dan berkata, "Inilah gw. Coba kalau nggak ada gw?"

sadar nggak sih lu kalau nggak ada yang besar kalau yang kecil hilang? sadar nggak sih lu kalau yang besar berangkat dari yang kecil? sadar nggak sih lu kalau pohon tinggi besar selalu berangkat dari tunas yang lemah? sadar nggak sih lu kalau untuk menjadi besar perlu pupuk, perlu dirawat, perlu dijaga, perlu disabari dan ditelateni? sadar nggak sih lu kalau perlu nafas panjang buat jadi pemenang?

atau jangan2, lu emang sudah merasa besar? apa yang udah lu lewati membuat lu merasa besar? karena lu hebat, lu tau cara motong jalan?

atau jangan2, gw yang terlalu naif?

atau jangan2, gw udah ketularan jadi tukang kritik, tukang mimpi, pengin serba instan?

ngomong apa sih lu? bangun! pulang gih sana, siap2 buat sahur!

Sekeping Doa untuk Segelas Coca-Cola

October 10th, 2005 by pramanjaya

Tadi pagi aku menemukan sekeping doa. Selayaknya kepingan uang, doa itu punya dua sisi yang berlainan: sisi yang satu penuh kepasrahan, sisi lainnya penuh pemaksaan. Aku mendapati kepingan doa itu di jalan dekat rumah saat berangkat menuju ke kantorku. Entah siapa yang membuangnya. Atau jangan-jangan, memang tidak ada kotak tersedia bagi kepingan doa itu sehingga sang pemiliknya mesti rela membuang hartanya itu. Biarin, yang penting aku lah sang penemunya.

Agak takut diketahui banyak orang, segera kukantongi kepingan doa itu. Aku nggak mau ada wartawan yang memergokiku mengambil kepingan doa itu. Wah, bisa-bisa dia kontak teman-temannya, dan banyak wartawan lainnya mengerubutiku. Menghujaniku dengan pertanyaan dan kilatan lampu kamera. Aku jelas tidak siap.

Belum lagi jika ada yang mengaku-aku, karena membaca berita dari suratkabar yang mengatakan aku menemukan kepingan doa, bahwa itu miliknya. Iya kalau cuma satu orang. Tapi kalau ribuan orang yang menyatakan diri bahwa kepingan doa itu kepunyaannya? Repot kan? Masa aku harus menanyakan detailnya: kapan mereka berdoa, apa buktinya, kenapa berdoa, mana fotokopi KTP mereka, kenapa doanya sekeping saja, dan sejuta bukti-bukti lain agar aku percaya kalau doa itu miliknya.

Mending aku simpan sendiri. nanti kalau aku haus, aku akan menggunakannya untuk membeli segelas coca-cola dingin, begitu pikirku.

Pikiranku benar adanya. Tak seberapa lama, dahaga menyerangku. Kerongkonganku kering seperti ranggasan daun jati saat kemarau datang berkepanjangan. Perih menyergap jika aku menelan ludah. Uh, untung ada sekeping doa entah milik siapa dikantong celanaku. Segera kurogoh kantongku. Kukeluarkan kepingan doa itu, kutimbang-timbang mencoba menghitung, siapa tahu ada kembalian.

Penuh riang, aku menyeberang jalan menuju warung kaki lima di depan rumahku. Air liur seperti berkumpul di ujung mulutku, menunggu coca-cola dingin idamanku melarutkan air liur itu. Kupacu langkahku cepat-cepat.

"Coca-cola pakai es batu, langsung aku bayar dengan sekeping doa ini," pintaku ke pemilik warung.

"Maaf dik, nggak ada kembaliannya. Bayar saja pakai uang. Lagian saya tidak menerima kepingan doa untuk segelas coca-cola," tukas sang penjual seperti tidak menaruh perhatian.

Emosiku naik. Enak saja! Bagaimana mungkin penjual itu menolak kepingan doa yang aku temukan, sedangkan wartawan saja jika tahu akan berebut memberitakan?

"Sialan!kamu meremehkan harga sekeping doa ini ya?" ujarku penuh marah.

"Saya cuma menerima uang, bukan doa!" kata penjual itu dengan nada sama kerasnya.

"Ini doa. Mahal harganya!"

"Nggak laku!"

"Bodoh!"

"Kamu yang bodoh. Doa kok buat beli coca-cola."

"Tapi aku haus."

"Beli minum dengan uangmu, bukan doa itu."

"Aku tidak punya uang."

"Ya jangan haus. Atau sana, minum air keran di masjid depan."

"Aku mau coca-cola"

"Usaha!"

"Aku sudah usaha, berlari ke warungmu buat segera membeli coca-cola. Jadi, aku mau coca-cola itu."

"Nggak. Saya nggak mau dibayar pakai doa."

"Kamu meremehkan nilainya doa."

"Kamu menganggap doa solusi dari semuanya."

"kamu kualat, mengabaikan doa."

"Kamu yang kualat. doa dipakai seenaknya."

"Aku kan menemukannya."

"Apalagi cuma nemu."

"Berarti kepingan doa ini tidak berharga?"

"Bukan untuk segelas coca-cola, namun sebagai penambah semangat buatmu berjalan cepat-cepat membeli coca-cola, untuk menghapus dahaga."

Katamu, Hari Selalu Indah

September 28th, 2005 by pramanjaya

anak kecil bertelanjang dada menjejakkan kaki di pundak temannya, berusaha menggapai puncak cemara. jemari kecilnya bergerak-gerak, mencoba meraih sarang burung di atas sana.

anak burung dengan bulu jarang berkeciap-ciap menanti ibunda pulang membawa makan. sayap lemahnya berkepak-kepak secepat-cepatnya ingin bisa terbang. kelopak mata masih sulit dibuka.

elang terbang tinggi di angkasa sendirian dengan tenangnya. sayap lebar terbentang sepanjang-panjangnya menanti malam menyergap datang.

pria dewasa berbadan kekar, bertelanjang dada mengkilap keringat diterjang teriknya siang, mengangkat beban puluhan kilogram. peduli setan yang lainnya, yang penting kerja buat makan dirinya dan keluarga.

wanita cantik bibir tebal lipstik menghisap dalam-dalam rokok di keremangan  jalan bawah jembatan penyeberangan di suatu malam. wangi parfum murahan menyengat hidung siapa saja yang lewat. berbalut rok mini, wajahnya menengok ke kanan-kiri. peduli setan kata orang, yang penting cari uang.

lelaki kesepian berjalan pulang hanya ditemani bintang. berjalan sambil berdendang mengusir sepi. rokok dijepit di jari telunjuk dan tengah di tangan kiri, terayun menuruti irama kaki, meninggalkan asap rokok yang baru dia hembuskan tadi. peduli setan lelah menyerang, yang penting uang ada di tangan.

ketawa cekikikan nakal terdengar tumpang tindih dengan lagu dangdut yang keluar dari radio tape mono stereo di dalam bilik-bilik sempit terbuat dari gedek bambu berlubang-lubang. cahaya lampu merah 5 watt menerabas keluar semakin menggenitkan malam. peduli setan trantib datang, yang penting enak dan banyak uang.

perempuan cantik berbibir penuh lipstik duduk menyilangkan kaki dalam mobil mewah melaju kencang. pandangannya menerawang hampa keluar tak peduli warna-warni lampu jalanan atau lampu dari gedung-gedung tinggi. ada sisa airmata melelehi pipi mulusnya. peduli setan gelimang harta kekayaan, yang penting kebahagiaan.

lelaki setengah baya dengan dua kancing baju telah lepas dan ikatan dasi di kerah bajunya yang tidak lagi kencang, duduk bersandar.  leher dan belakang telinganya penuh cupang. keringat masih menetes dari dahi, turun ke muka, membasahi kerah bajunya. cerutu menyala menghiasi bibirnya. peduli setan istri meradang, yang penting nikmat selangkangan orang.

bocah kecil berpiayama tak bisa memejamkan mata, gelisah menunggu entah siapa membacakan cerita menjelang tidurnya. boneka beruang teddy besar warna cokelat di sampingnya membisu, hanya menjadi tempat si bocah mengelap bulir airmata yang tak henti-henti mengalir di pipinya. peduli setan pagi datang, yang penting papa mama cepat pulang.

subuh datang…

perempuan bermukena menengadahkan tangan memanjatkan doa. basah muka karena air wudu belum lah kering. khusyu, airmata menetes di pipinya. dia peduli.

lelaki berkopyah, berbaju koko dan bersarung kotak-kotak dengan sajadah tersampir di bahu kanan, berjalan pelan. zikir terus terucap di bibirnya. khusyu, namun masih bisa tahu kalau ada batu di depan jalan yang akan dilaluinya, dia peduli.

seragam merah putih rapi terseterika tergelar di dipan. bunyi guyuran di kamar mandi jelas terdengar. bocah kecil berdendang riang, "Mandi pagi kalau biasa. Sejuk dingin tidak terasa…" dia peduli.

seorang nenek duduk di kursi goyang di halaman belakang bermandi hangat sinar matahari kala pagi. seperti terpekur, mengelus kucing anggora kuning di pangkuannya.

"Ah, dunia…"

Kerinduan

September 22nd, 2005 by pramanjaya

Tiba-tiba saja aku merindukannya. Padahal, hampir sekian waktu silam aku tidak mendengar sekutip kabar pun dari dia. tidak dari telepon, tidak dari pesan singkat, tidak dari apa pun. Aku dan dia sebetul-betulnya putus kontak. Aku sendiri sama sekali tidak terlalu menggubrisnya. terserah! mau jungkir balik seperti apa juga masa bodoh. Dia adalah masa lalu, meskipun dia tak mungkin terhapus atau dihapus. Dia mungkin hanya sepotong kenangan yang mewarnai ceritaku. "Kalau kamu selalu bercermin ke masa lalu, berarti kamu tidak benar-benar maju," begitu kalimat yang sering aku tekankan pada diriku sendiri. menurutku, masa lalu adalah fondasi. nggak lucu saja kelihatannya kalau aku cuma berkutat membangun yang itu-itu saja.padahal belum tentu setiap material cocok dan mau diajak bersama-sama menguatkan bangunannya.kalau kondisinya seperti itu, kapan rumahnya akan jadi?

cuma mendadak aku menerima segepok surat yang ditulismu sejak terakhir kali kita bertemu. waktu yang cukup untuk membuat surat yang aku terima hari itu terlihat segunung, dengan amplop warna-warni. sepertinya kamu ingin menandai setiap ceritamu dengan warna. sewaktu sedih menggunakan pembungkus warna hitam. waktu ceritamu begitu romantis, kamu menggunakan warna merah muda. Atau ketika kamu sedang membara, kamu memilih merah. Namun, kamu tidak mengirimkannya satu per satu. Entah mengapa. Entah karena kamu tidak punya keberanian mengirimkannya atau memang kamu punya rencana besar untuk membuatku terkapar, tenggelam dalam cerita-ceritamu lewat surat itu.

Benar kekasihku, aku tenggelam dalam surat-suratmu. ceritamu mengalir tiada henti di lembar demi lembar. mulai dari Kamu cerita bagaimana kamu menjalani hidupmu di sana sedetail-detailnya: saat jari kelingking dan jari manismu terkilir karena terjatuh dari sepeda motor, saat kamu pelesir ke pantai untuk melihat matahari terbenam, saat kamu menghabiskan tahun baru sekaligus menunggu waktu sahur tiba, saat kamu mendengarkan lagu "Forever Love"-nya Garry Barlow, saat kamu…saat kamu…ceritamu sangat lengkap kekasihku.

Aku membaca semuanya sambil tersenyum. aku seakan-akan tertarik masuk mendampingimu melakoni setiap kisah yang tersurat itu. tiba-tiba saja aku kangen kamu. lembar per lembar surat yang kamu kirimkan buatku membuat sosokmu makin lama makin tergambar jelas di benakku. senyummu yang tidak mungkin aku lupa mulai menyapaku kembali dengan ramah. kamu menjadi begitu jelas di hatiku. ah, aku merasakan kedamaian. ada kesejukan mengalir deras di dalam tubuhku. merambat pelan, membuatku tenang sekaligus senang. aku benar-benar merasai sayangmu.

Aku melarut. padahal di luar sana bom atom berdaya ledak maha dahsyat meluluhlantakkan semua bangunan. tanah tempat seluruh umat manusia berpijak terasa begitu panas. mungkin panasnya bisa mendidihkan otak kita jika kita berdiri di atasnya. bumi rata tanpa bangunan. pohon-pohon tumbang. hijau hilang. cokelat datang. semua gersang dan tandus. lumpur panas bercampur zat kimia dari bom yang terus-menerus diledakkan tiada hentinya mengalir. menggilas apa saja yang menghalanginya. ada potongan kayu, rongsokan mobil, kambing setengah matang tanpa kepala, potongan tubuh manusia, batang pohon beringin besar, sandal jepit, kaus tim intermilan bernomor 10, televisi, radio, semua hanyut. semua warnanya hitam.bau busuk menusuk hidung. orang-orang panik berlarian mencoba menyelamatkan diri dan sebisa mungkin harta mereka. masing-masing menjadi begitu egois. peduli setan dengan siapa saja yang sedang melolong kesakitan.

tapi aku tak peduli. aku terus membaca surat-suratmu. aku bisa mencium bau wangi tubuhmu. aku merasa duduk di taman bunga warna-warni, di sebuah kursi taman besi, di kelilingi rerumputan nan hijau asri. kupu-kupu berdendang riang. mampir dari bunga yang satu ke bunga yang lain. kumbang bergumam. menjalankan tugasnya mengantarkan serbuk sari ke kepala putik setelah sebelumnya menghisap manisnya madu. merpati-merpati putih berterbangan. sebagian lagi tenang mematuki makanan di sekitar taman. di satu pohon, aku dengar kutilang juga ikut berdendang. di sana juga ada! di situ, di atasku, di mana-mana. kicauannya ramai. semarak. aku suka meski tak tahu burung apa saja yang bernyanyi buatku mengiringi waktuku membaca suratmu. saat ku baca, kadang aku tertawa terbawa cerita. kadang kala pula aku perlu menghapus airmata yang datang tiba-tiba tanpa aku sadar kapan datangnya. ceritamu kaya cintaku. kamu sepertinya bahagia di sana kendati kamu mengaku masih sayang sama aku di sini.

"Boleh ku baca surat itu, Nang?" sekejap saja kakakku datang menyapaku. "Baca yang sudah aku baca ya mbak. yang aku tumpuk di sebelah kiri tempat dudukku," balasku. kakakku segera menyusul duduk di sebelahku. membuka-buka surat itu sembari bertanya,"Apa kabar dia? aku juga rindu." Aku tersenyum. kakakku tersenyum. kamu tersenyum. kita bertiga tersenyum.

aku terjaga.

ah, aku rindu kamu…

Kupu-Kupu Hitam

September 16th, 2005 by pramanjaya

Kupu-kupu itu selalu mendatangiku di waktu sepi

Mengendap-endap, ketika gelap menyelubungi seluruh ruang semesta

Dia kupu-kupu dengan sayap tak kenal lelah selalu berkepak-kepak

Dia kupu-kupu yang memiliki keindahan, penjelmaan ulat buruk rupa yang telah lama berpuasa

Dia indah meski tak memiliki banyak warna seperti jamaknya kupu-kupu lainnya

Warna cokelat berangsur-angsur hitam mendominasi sekujur tubuhnya

Gelap, tak mudah tertangkap setiap mata

Pernah sekali kutanyakan kenapa dia hanya memiliki warna hitam dan cokelat

“Tak usah kau tanyakan. Aku sudah berwarna seperti ini jauh sebelum berjumpa denganmu.”

Dia bukan kupu-kupu yang mudah mencuri perhatian setiap manusia yang menjumpainya

Dia pun tidak ingin dengan mudah dijumpai

Dia senang bersembunyi

Tidak seperti jamaknya kupu-kupu lain yang punya warna sayap serba centil: merah, kuning, merah muda, ungu, hijau, menyala serba wangi

Dia berbeda

Tidak ada wangi datang setiap kali dia menengokku di ruangan sepi itu setiap malam

Karena itulah aku sangat menyukainya

Bukan lantaran kegenitan warnanya, imut kepak sayapnya, atau tebaran wangi tubuhnya

Aku menyukainya karena ketelatenannya menghiburku

Terbang berputar-putar mengelilingi kepalaku sembari bernyanyi

Sehingga semestaku tak lagi sepi

Aku suka karena dia selalu menganggukkan kepalanya setiap kali aku bercerita

Dia selalu membelaikan sayap hitamnya saat aku terpuruk dan terisak

Dia selalu memberiku senyum manis dan berkata,

"Semua akan baik-baik saja." 

Selalu Ada yang Mengingatkan Kita Berucap Syukur

September 14th, 2005 by pramanjaya

di sebuah sudut kota suatu malam. jalanan lengang lagi gelap. sepeda motor tua–dengan nyala lampu redup–yang dikendarai seorang pemuda tampak berjalan terseok-seok meninggalkan kota. terdengar bunyi derik jangkrik di mana-mana. entah di sini, entah di sana. sejalan-jalan, tak henti-hentinya pemuda itu menggerutu. di tengah kota tadi dia melihat banyak pemuda seumuran dirinya tengah memeluk erat indahnya hidup bergelimang harta. di pinggir jalan, di warung roti bakar, di penjual rokok pinggir jalan sampai di halaman muka diskotik kenamaan. di perempatan lampu merah dua muda-mudi berciuman begitu mesra. di samping mobil tersebut pemuda itu menunggu hijau, berusaha tidak melirik ke sebelah. "Ah asyiknya," pemuda itu bergumam nyinyir. "Kenapa mereka begitu mudah mendapatkan segalanya? Sedangkan aku yang berjumpalitan setiap hari demi sekeping rupiah tetap saja susah?"

dia muak dengan hidupnya. dia benci dengan keadaannya. Dia marah dengan keegoisan ayahnya yang memilih mundur dari pekerjaan dengan alasan harga dirinya terinjak kalau saja masih terus bekerja di kantor itu. padahal pemuda itu tengah berusaha merampungkan skripsinya yang tentu saja juga butuh biaya. sekolah di hari ini mana ada yang murah? emosi pemuda itu semakin tak terkendali. dia menggugat kepada-Nya sepanjang jalan menuju rumah nun di tepi kota. Kekurangan materi membutakannya.

hingga mendadak mesin motor bututnya mati, ketika malam justru semakin pekat. tak ada seorang pun lewat. rasa jengkelnya tambah memuncak. banyak pikiran berseliweran. bagaimana kalau tiba-tiba pencoleng datang? memaksanya menyerahkan satu-satunya harta berharga berwujud motor tua? padahal di pundak motor itu keseharian pemuda dan seluruh keluarganya berjalan. entah itu buat mengantarkan sang adik ke sekolah, dipakai sang bapak berangkat kerja sebagai buruh bangunan setelah mundur dari kerja kantoran, atau juga si pemuda. "Aku nggak peduli. kalau benar datang itu si lamun, akan aku lawan. bagaimana pun juga aku harus mempertahankan motor ini."

"tapi kenapa kamu tiba-tiba mesinnya mati?"

"Sial!"

pemuda itu menendang motornya

"Bangsat!"

sekali lagi kaki kanannya menendang motor butut itu. Ia diam. coba lagi dia menstarter motor tersebut. tetap tidak menyala.

"aarrgghhhh!"

kaki kirinya maju.

"Brakkk!"

giliran tangan ikut menggebrak. sepeda motor itu bergeming.

Pemuda itu mendorong. terpaksa. sekian langkah, kembali kakinya berhenti.

"Brakkk..Brakkk!"

dua kali tangannya menghajar bodi motor. distarter lagi, tetap mati.

"Kenapa motornya, dik?"

suara seorang bapak penarik becak menegur si pemuda seakan datang tanpa ada tanda. dikayuhnya becak tersebut pelan, sama cepat dengan jalan kaki pemuda itu mendorong motornya. Ia mengaku hendak pulang setelah bekerja seharian. jarum jam hampir menunjuk angka 1.

"Mogok nggak tau kenapa."

"Mau dibantuin?"

"Caranya?"

"He-he-he. Sayang saya juga nggak tahu mesin."

"Ya nggak perlu bantuin."

"Dinaiki saja. trus adik pegangan becak saya."

"Nggak usah."

"Sudah nggak apa-apa. Saya kuat kok. Sudah biasa."

"Bapak masa nggak cape?"

"He-he-he. kasian juga kalau adik saya tinggal sendiri."

"Nggak tahu nih tiba-tiba mati."

"Memangnya rumah adik di mana?"

"Lurus saja. di perumahan baru."

"O."

"Bapak?"

"Lurus juga."

Di perumahan?"

"Nggak juga."

"Baru pulang?"

"Sudah biasa. Kadang malah sampai 2 - 3 pagi."

"Berangkat lagi?"

"Jam 4 harus nganter istri berjualan di pasar."

"Nggak cape?"

"Sudah biasa."

"Setiap hari?"

"Ya"

"Putra-putri berapa?"

"Tiga. dua laki-laki satu perempuan."

"Sekolahnya?"

"Yang pertama lulusan SMP. Kedua kelas 6 SD, ragilnya 2 SD."

"Sekolah di mana?"

"Dekat saja. makanya sepulang mengantar istri, saya antar keduanya sekolah, naik becak. he-he-he."

"Yang nomor satu?"

"Di rumah bantu ibunya siapin barang dagangan."

"Nggak sekolah lagi?"

"Hmm…"

"Sehari narik dapat berapa rata-rata, Pak." tanya pemuda itu lirih. Perbincangan dengan sang tukang becak itu memaksa kepalanya untuk kembali menunduk, beristirahat dari lelah karena terlalu lama mendongak. bikin dia jadi sering lupa cara bersyukur.

"Ya kalau sepi 10 ribu. Kalau pas rejeki bagus bisa 30 ribu."

"Masa cukup untuk semua keluarga?"

"Masih untung dapet. Kadang pulang bawa 5000 perak saja."

"Lalu?"

"Dibikin senang saja. toh ngedumel nggak mendatangkan apa-apa."

"Sekolah anak-anak?"

"Ya diusahakan semampunya. Namanya rejeki nggak disangka-sangka datangnya. Kita kan cuma bisa berusaha."

"Cukup?"

"Syukurlah selalu cukup."

"Anak-anak nggak protes?"

"Mereka mengerti kemampuan ayah-ibunya."

"…"

"Ragil saya sudah senang kalau saya pulang bawa gorengan. Dia pasti bangun dari tidurnya."

"…"

"Pukul 4 pagi, semua sudah bangun untuk siap salat subuh."

"…"

"Ya setelah itu ya seperti yang saya ceritakan tadi."

"…"

"Adik kuliah?"

"Ya."

"Semester berapa?"

"Akhir. Hampir selesai."

"Hebat!"

"Biasa saja."

"Jangan begitu. mbok disyukuri. banyak yang nggak bisa sekolah tinggi seperti adik."

"Minta restunya saja."

"Percaya saja akan ada jalan."

"…"

"…"

"Sudah Pak, duluan saja biar bisa istirahat secepatnya."

"Bener mau ditinggal?"

"Bener."

"Nggak apa-apa?"

"Kasihan si ragil nungguin gorengannya."

"He-he-he."

"Monggo pak duluan."

"Saya tinggal ya."

"Ya. Terima kasih ditemani (juga dibukakan keluasan hati untuk bisa pasrah menerima apa yang telah diberikan oleh-Nya)."

Kota semakin tertinggal jauh di belakang. Tidak ada lampu penerangan jalan sama sekali. hanya tebaran bintang dan cahaya malu-malu bulan sabit menerangi jalan. kanan tegalan. sisi kiri ladang dan persawahan. jalanan lurus, tak berbelok.

Lepas dari obrolan, pemuda itu terdiam sedetik. angin malam nan dingin menyapu badannya. tiris bercampur embun tipis. rasa yang tidak sewajarnya mulai menyerang pemuda itu. sepi mengundang rasa takut untuk datang. segera dicoba distarter lagi motor tua itu tanpa tendangan atau pukulan terlebih dahulu. dan ajaib, mesin menyala seketika. lampu depan bahkan memberi terang lebih dari biasanya, menerangi bentangan jalan lurus yang terhampar di depan. 

Bapak pengayuh becak itu sudah tidak tampak meski baru sekian detik berselang. jalanan lurus, tapi sama sekali tak terlihat becak merangkak pelan. jalanan lurus. entah di sudut mana Bapak itu menghilang bersama becaknya.

Pemuda itu kemudian memacu motor bututnya sekencang-kencangnya.